LEMDIKLAT POLRI | Polisi Palestina Belajar Cyber Crime dan Digital Forensic dari Indonesia
15597
single,single-post,postid-15597,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-9.5,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
18eb79b2-4f13-4f04-bc5f-f2bca3c75fb4_43

Polisi Palestina Belajar Cyber Crime dan Digital Forensic dari Indonesia

Akhir minggu lalu, 10 polisi Palestina melintas perbatasan serta checkpoint Israel dan singgah di KBRI Amman untuk mengurus visa. Mereka hendak terbang ke Indonesia untuk belajar ilmu kepolisian khususnya bidang cyber crime dan digital forensic.

“Suatu perjuangan bagi seorang polisi Palestina bisa melintas batas dan sampai ke perbatasan Yordania. Tidak ada satupun peserta pelatihan polisi dari Palestina yang membawa seragam kepolisian beserta atributnya, melainkan hanya membawa pakaian kasual seperti layaknya ordinary people,” ucap Mayor Tareq Khalifa seperti ditirukan perwakilan KBRI Amman, Nico Adam, dalam siaran persnya, Selasa (10/5/2016).

Kedatangan mereka ke Jakarta adalah merupakan undangan Direktorat Kerja Sama Teknik, Kementerian Luar Negeri yang bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Kepolisian Republik Indonesia dalam melaksanakan International Workshop on Cyber Crime and Digital Forensic for Palestinian Police and Public Order Management for the Asia Pacific Countries di Jakarta, 9–18 Mei 2016.

Pelatihan tersebut terdiri atas dua bagian terpisah. Pelatihan pertama di bidang Public Order Management for the Asia Pacific Countries bertujuan untuk berbagi pengalaman terbaik Indonesia tentang pemahaman antisipasi demonstrasi, penguasaan kondisi anti huru hara dan peralatan anti huru hara. Pelatihan tersebut diikuti oleh 12 peserta dari negara-negara Fiji, Myanmar, Kamboja, Kaledonia Baru, dan Afghanistan.

Sementara pelatihan kedua di bidang Cyber Crime and Digital Forensic bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aparat kepolisian Palestina di bidang penanggulangan kejahatan di dunia maya dan forensik digital. Pelatihan tersebut diikuti oleh 10 peserta polisi Palestina.

Kegiatan workshop di atas merupakan tindak lanjut dari komitmen Pemerintah Indonesia kepada Palestina dalam mendukung dan mempersiapkan kemampuan sumber daya manusia khususnya aparatur pemerintah Palestina. Adapun materi pelatihan di bidang cyber crime dan digital forensic ini adalah sesuai dengan permintaan pemerintah Palestina (Demand Oriented).

Untuk pelatihan ini sebenarnya Pemerintah Indonesia menawarkan untuk 20 peserta. Namun mengingat jumlah personel polisi di Palestina sangat terbatas, maka Palestina hanya mampu mengutus sebanyak 10 orang saja.

Secara resmi kegiatan pelatihan dibuka pada tanggal 9 Mei 2016 oleh Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian, Komjen Polisi Syafruddin dan dihadiri oleh pejabat tinggi kepolisian RI, Duta Besar serta perwakilan kedutaan besar negara-negara terkait, Duta Besar Elias Ginting mewakili Direktur Jenderal Informasi Diplomasi Publik Kemlu serta Direktur Kerja sama Teknik Kemlu RI.

Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Lemdikpol menyampaikan bahwa Lemdiklat Polri telah melaksanakan kerja sama luar negeri khususnya terhadap aparat kepolisian mancanegara. Kerja sama ini termasuk pelatihan lalu lintas, Reserse dan Sabhara untuk anggota kepolisian pria Afghanistan, pelatihan negosiator, PPA dan Polmas untuk anggota kepolisian wanita Afghanistan, pengamanan pemilu untuk kepolisian Myanmar, pendidikan pengembangan umum untuk para pemimpin level menengah dari beberapa negara lain, dan berbagai jenis pendidikan pengembangan spesialisasi untuk anggota kepolisian Timor Leste.

Mewakili Kementerian Luar Negeri, Dubes Elias Ginting menyampaikan bahwa pelatihan untuk polisi Palestina merupakan bagian dari amanat Konstitusi RI untuk mendukung kemerdekaan semua bangsa, termasuk Palestina. Sedangkan pelatihan bidang anti huru-hara menjadi bagian penting guna menegakkan kehidupan berbangsa yang demokratis di kawasan Asia Pasifik. Kedua program merupakan permintaan dari Palestina dan negara-negara kawasan Asia Pasifik, dan dirancang sesuai dengan kondisi di wilayah mereka masing-masing.

Sebagai informasi, selama lebih dari 17 tahun, Indonesia telah mengimplementasikan lebih dari 460 program peningkatan kapasitas untuk lebih dari 5,400 peserta dari Asia, Afrika, Pasifik dan Timur Tengah serta Amerika Selatan. Secara khusus bagi Palestina, Pemerintah Indonesia telah membantu 1.394 orang dalam berbagai program peningkatan kapasitas sejak tahun 2008. Bidang-bidang peningkatan kapasitas andalan Indonesia termasuk di antaranya perikanan, good governance, pariwisata, pertanian, dan bidang pelatihan lainnya. Pelatihan peningkatan kapasitas bagi Palestina dan negara-negara di kawasan Pasifik Selatan juga merupakan bagian dari komitmen Pemerintah RI untuk terus mendorong kerja sama pembangunan antar negara berkembang.

No Comments

Post A Comment